- Tentang bagaimana merancang, membangun, merenovasi tidak hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kemaslahatan hidup manusia. Serta berbagai refrensi perkembangan industri bangunan (building Industry) di Indonesia juga mancanegara. (Teknik sipil mempunyai ruang lingkup yang luas, di dalamnya pengetahuan matematika, fisika, kimia biologi, geologi, lingkungan hingga komputer mempunyai peranannya masing-masing. Teknik sipil dikembangkan sejalan dengan tingkat kebutuhan manusia dan pergerakannya, hingga bisa dikatakan ilmu ini bisa mengubah sebuah hutan menjadi kota besar) selebih lebihnya...



kritik dan saran dapat melalui email : muhammadrofiq@engineer.com

Deformasi Gelombang

1 comment

  Deformasi Gelombang adalah perubahan bentuk atau sifat gelombang yang disebabkan oleh beberapa faktor ketika akan mendekati pantai. Perubahan atau deformasi gelombang tersebut meliputi refraksi, difraksi, dan refleksi, yang pada akhirnya berpengaruh pada garis pantai dan bangunan yang ada disekitarnya.


Refraksi

  Refraksi adalah perubahan pembelokan arah suatu gelombang yang disebabkan oleh pendangkalan atau perubahan kedalaman laut serta faktor angin pada daerah laut dangkal. Ketika gelombang yang akan memasuki wilayah pantai, kecepatan menjalar puncak gelombang pada perairan yang lebih dangkal akan lebih kecil dibandingkan dengan puncak pada kedalaman yang lebih dalam. Sehingga puncak gelombang akan mengalami suatu pembelokkan. ex : gambar :

Difraksi

  Difrraksi adalah penyebaran atau pembelokan gelombang setelah menghantam suatu halangan, biasanya berupa bangunan pemecah gelombang (break water) maupun pulau-pulau kecil yang berada disekitarnya, maka gelombang tersebut akan membelok disekitar ujung rintangan/halangan dan masuk didaerah terlindung dibelakangnya.
Dalam difraksi gelombang ini terjadi transfer energi dalam arah tegak lurus penjalaran gelombang menuju daerah terlindung. Transfer energi ke daerah terlindung menyebabkan terbentuknya gelombang baru, meskipun tidak sebesar gelombang diluar daerah terlindung. ex : gambar :

Refleksi

  Refleksi adalah pemantulan suatu gelombang yang terjadi saat gelombang datang dan membentur suatu halangan, biasanya berupa bangunan pemecah gelombang (break water) maupun pulau-pulau kecil yang berada disekitarnya. Untuk menentukan antulan gelombang diperoleh dari koefisien refleksi yang berbeda-beda untuk berbagai macam dan tipe bangunan atau halangan tersebut. ex : gambar :


Baca juga :

Shoaling

  Shoaling merupakan perubahan tinggi gelombang dan panjang gelombang dikarenakan perubahan kedalaman dari yang dalam sampai ke dangkal.







Beton Prategang (prestressed-concrete)

Leave a Comment
     Beton prategang merupakan beton bertulang yang diberikan tegangan tekan dalam, untuk mengurangi tegangan tarik dalam beton di bagian tumpuan dan daerah kritis pada kondisi beban kerja. sehingga dapat meningkatkan kapasitas lentur, geser, dan torsional penampang tersebut. Gaya tekan tersebut disebabkan oleh reaksi baja tulangan yang ditarik, mengakibatkan berkurangnya retak, beton prategang akan menjadi lebih kokoh dari beton bertulang biasa.

Pengertian beton prategang menurut beberapa peraturan :

1. PBI – 1971
Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah ditimbulkan tegangan-tegangan intern dengan nilai dan pembagian yang sedemikian rupa hingga tegangan-tegangan akibat beton- beton dapat dinetralkan sampai suatu taraf yang diinginkan.
2. Draft Konsensus Pedoman Beton 1998
Beton prategang adalah beton bertulang yang dimana telah diberikan tegangan dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat pemberian beban yang bekerja.
3. ACI
Beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan internal dengan besar dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi sampai batas tertentu tegangan yang terjadi akibat beban eksternal.

Kelebihan Beton Prategang :

1. Terhindarnya retak terbuka didaerah tarik
2. Lebih tahan terhadap korosi.
3. Kedap air sehingga cocok untuk daerah dekat perairan
4. Karena terbentuknya lawan lendut akibat gaya prategang sebelum beban rencana bekerja, maka lendutan akhir setelah beban rencana bekerja, akan lebih kecil dari pada beton bertulang biasa.
5. Dimensi penampang struktur akan lebih kecil dan ramping, karena seluruh luas penampang dipergunakan secara efektif.
6. Jumlah penggunaan baja jauh lebih sedikit dari pada jumlah berat besi penulangan pada konstruksi beton biasa.
7. Ketahanan terhadap geser dan ketahanan terhadap puntirnya meningkat.
8. Volume beton yang digunakan untuk produksi beton prategang lebih sedikit
9. Jumlah baja/besi yang digunakan untuk produksi beton prategang sedikit.
10. Beton prategang hampir tidak memerlukan biaya pemeliharan, lebih tahan lama karena, dapat membuat balok dengan bentang yang lebih panjang.
11. Menghemat waktu pelaksanaan konstruksi.

Kekurangan Beton Prategang :

1. Perlu hitungan yang lebih rumit dari beton konvensional biasa
2. Perlu Kwalitas bahan yang lebih tinggi

Sifat-Sifat Bahan 

⇒ Beton
Untuk mutu beton prategang memakai (min K-300) karena mempunyai sifat penyusutan dan rangkak yang rendah dan mempunyai modulus elastisitas serta modulus tekan yang tinggi juga dapat menerima tegangan yang lebih besar dibandingkan beton mutu rendah. Sifat-sifat ini sangat penting untuk menghindarkan kehilangan tegangan yang cukup besar akibat sifat-sifat beton tersebut.

Baja Prategang
Baja yang digunakan baja mutu tinggi. Baja untuk beton prategang terdiri dari :
1. Kawat Baja :
Kawat baja disediakan dalam bentuk gulungan, kawat dipotong dengan panjang tertentu dan dipasang di pabrik atau lapangan. Baja harus bebas dari lemak untuk menjamin rekatan antara beton dengan baja prategang.
2. Untaian Kawat (strand) :
Kekuatan batas strand ada 2 jenis yaitu 1720 MPa dan 1860 MPa, yang lazim dipakai adalah strand dengan 7 kawat.
3. Batang Baja :
Batang baja yang digunakan untuk beton prategang disyaratkan pada ASTM A 322, kekuatan batas minimum adalah 1000 MPa. Modulus elastisitas 1,72 105 – 1,93.105 MPa. Batang baja mutu tinggi tersedia pada panjang sekitar 24 m. Batang-batang baja tersedia sampai Ø 34,9 mm.

Sumber :
PBI 1971, K. Pedoman Beton 1998 dan ACI

E-Book Teknik Pondasi

1 comment
Berikut kumpulan E-book Teknik Pondasi yang dapat anda download dibawah ini. anda dapat mengunduh E-book Teknik Pondasi secara free alias gratis. yok, monggoo disruput.. 
Silahkan download link yang sudah disediakan dibawah ini 
(klik pada gambar untuk download):

Desai Pondasi Tahan Gempa
sni 2836-2008
Pengantar Teknik Fondasi

Pondasi Cakar Ayam



Silahkan didownload secara Free alias Gratis :)

kumpulan E-book Mekanika Tanah

5 comments
Berikut kumpulan E-book Mekanika Tanah yang dapat anda download dibawah ini. anda dapat mengunduh secara free alias gratis. yok, monggo disruput.. Silahkan download link dibawah ini 
(klik pada gambar untuk download):


Kompaksi Urukan Tanah dan Batuan.pdf
Mekanika Tanah 1.pdf

Mekanika Tanah 2.pdf
Mekanika Tanah dan Pondasi.pdf

Dasar Mekanika Tanah.pdf
Mekanika Tanah Jilid 1 (BRAJA M. DAS).pdf

Pengujian Tanah di Laboratorium.pdf

Stabilisasi Tanah.pdf






semoga bermanfaat :)

E-book SNI Untuk Perencanaan Konstruksi Jalan Raya

Leave a Comment

Akhirnya dari berbagai sumber, E-book SNI Teknik Sipil Untuk Konstruksi Jalan Raya dapat dikumpulkan satu persatu, berikut berbagai E-book SNI Untuk Perencanaan Konstruksi Jalan Raya serta link yang dapat anda download free alias gratis :

SNI 03-1732-1989 
Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Analisa Metode Komponen
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata Cara ini merupakan dasar dalam menentukan tebal perkerasan lentur yang dibutuhkan untuk suatu jalan raya
Download : SNI 03-1732-1989.pdf

SNI 03-2416-1991 
 Metode Pengujian Lendutan Perkerasan Lentur dengan Alat Benkelman Beam
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini digunakan untuk mendapatkan data lapangan yang akan digunakan dalam penilaian struktur perkerasan, peramalan perwujudan perkerasan, perencanaan teknik perkerasan atau lapis tambahan di atas perkerasan
Download : SNI 03-2416-1991.pdf

SNI 03-2403-1991 
Tata Cara Pemasangan Blok Beton Terkunci untuk Permukaan Jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini bertujuan untuk menda-patkan hasil lapis perkerasan blok beton terkunci yang memenuhi syarat sebagai lapis perkerasan
Download : SNI 03-2403-1991.pdf

SNI 03-2853-1992 
Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pondasi Jalan dengan Batu Pecah
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini digunakan untuk menda-patkan lapis pondasi jalan menggunakan batu pecah yang
Download : SNI 03-2853-1992.pdf

SNI 03-3425-1994 
Tata Cara Pelaksanaan Lapis Tipis Beton Aspal untuk Jalan Raya
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini bertujuan menyeragamkan cara pelaksanaan Lataston serta menghemat waktu pelaksanaan dan pemakaian bahan
Download : SNI 03-3425-1994.pdf

SNI 03-3426-1994 
Tata Cara Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan dengan Alat Ukur Kerataan NAASRA
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini digunakan untuk pelaksanaan survai permukaan perkerasan jalan dengan alat ukur NAASRA untuk mendapatkan keseragaman nilai kerataan
Download : SNI 03-3426-1994.pdf

SNI 03-3437-1994 
Tata Cara Pembuatan Rencana Stabilisasi Tanah dengan Kapur untuk Jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata Cara ini digunakan dalam pembuatan rencana komposisi dan mutu stabilisasi tanah dengan kapur sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Download : SNI 03-3437-1994.pdf

SNI 03-3438-1994 
Tata Cara Pembuatan Rencana Stabilisasi Tanah dengan Semen Portland
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini digunakan dalam pembuatan rencana komposisi dan mutu stabilisasi tanah dengan semen sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Download : SNI 03-3438-1994.pdf

SNI 03-3439-1994 
Tata Cara Pelaksanaan Stabilisasi Tanah dengan kapur untuk Jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini digunakan untuk mendapatkan hasil pelaksanaan stabilisasi tanah dengan kapur di lapangan yang sesuai dengan perencanaan
Download : SNI 03-3439-1994.pdf

SNI 03-3440-1994 
Tata Cara Pelaksanaan Stabili-sasi Tanah dengan Semen Portland untuk Jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini digunakan untuk mendapatkan hasil pelaksanaan stabilisasi tanah dengan semen di lapangan yang sesuai dengan perencanaan
Download : SNI 03-3440-1994.pdf

SNI 03-3978-1995 
Tata Cara Pelaksanaan Beton Aspal Campuran Dingin dengan Aspal Emulsi untuk Perkerasan Jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata cara ini digunakan untuk menyeragamkan cara pelaksanaan campuran dingin dengan aspal emulsi agar diperoleh lapis perkerasan yang memenuhi persyaratan dan ketentuan serta dapat menghemat waktu pelaksanaan dan pemakaian bahan
Download : SNI 03-3978-1995.pdf

SNI 03-3979-1995 
Tata Cara Pelaksanaan Laburan Aspal Satu Lapis (Burtu) untuk Permukaan Jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata Cara ini digunakan untuk meyeragamkan pelaksanaan pelapisan perkerasan jalan dengan laburan aspal Satu Lapis agar diperoleh hasil yang memenuhi persyaratan dan ketentuan serta untuk menghemat waktu pelaksanaan dan pemakaian bahan
Download : SNI 03-3979-1995.pdf

SNI 03-3980-1995 
Tata Cara Pelaksanaan Laburan Aspal Dua Lapis (Burda) untuk Permukaan Jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Tata Cara ini digunakan untuk meyeragam-kan pelaksanaan pelapisan perkerasan jalan dengan laburan aspal Dua Lapis agar diperoleh hasil yang memenuhi persyaratan dan ketentuan serta untuk menghemat waktu pelaksanaan dan pemakaian bahan
Download : SNI 03-3980-1995.pdf

SNI 03-4427-1997 
Cara Uji Kekesatan Permukaan Perkerasan Menggunakan Alat British Pendulum Tester (BPT)
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini digunakan untuk memperoleh besaran atau angka kekesatan permukaan perkerasan beraspal atau perkerasan beton semen yang sudah dipadatkan. Standar ini menetapkan prosedur untuk mengukur kekesatan permukaan perkerasan menggunakan alat British Pendulum Skid Resistance Tester (BPT), termasuk prosedur untuk mengkalibrasi alat uji
Download : SNI 03-4427-1997.pdf

SNI 03-4814-1998 
Spesifikasi Bahan Penutup Sambungan Beton Tipe Elastis Tuang Panas
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Spesifikasi ini digunakan sebagai bahan penutup sambungan beton tipe elastis tuang panas yang digunakan untuk menutup celah sambungan pada jalan beton, jembatan, dan bangunan lainnya
Download : SNI 03-4814-1998.pdf

SNI 03-4815-1998 
Spesifikasi Pengisi Siar Muai Siap Pakai Untuk Perkerasan Dan Bangunan Beton
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Spesifikasi ini membahas bahan pengisi siap pakai, ukuran dan toleransi, dan sifat fisik
Download : SNI 03-4815-1998.pdf

SNI 03-6748-2002 
Cara Uji Kekesatan Pada Permukaan Perkerasan Menggunakan Alat MU-meter
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini meliputi ketentuan teknik peralatan, dan cara pengujian perkerasan jalan beraspal, baik campuran panas atau dingin, dan perkerasan beton semen dalam keadaan basah. Standar ini menetapkan cara pengukuran kekesatan (the side force friction) permukaan perkerasan menggunakan alat yang biasanya disebut Mu-meter
Download : SNI 03-6748-2002.pdf

SNI 03-6751-2002 
Spesifikasi Bahan Lapis Penetrasi Makadam
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Spesifikasi ini digunakan dalam menilai mutu aspal dan mutu agregat yang akan digunakan yang bertujuan untuk menjamin keseragaman kekuatan dan keawetan lapis penetrasi makadam
Download : SNI 03-6751-2002.pdf

SNI 03-6752-2002 
Metode Pengujian Kadar Air Dan Kadar Fraksi Ringan Dalam Campuran Perkerasan Beraspal.
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini membahas ketentuan persiapan dan tata cara pengujian kadar air dan kadar fraksi ringan dalam campuran perkerasan beraspal
Download : SNI 03-6752-2002.pdf

SNI 03-6753-2002 
Cara Uji Ketahanan Campuran Beraspal Terhadap Kerusakan Akibat Rendaman
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini berisi cara pengukuran penurunan kuat tekan yang disebabkan oleh penurunan kohesi karena pengaruh air pada campuran beraspal yang telah dipadatkan
Download : SNI 03-6753-2002.pdf

SNI 03-6754-2002 
Metode Pengujian Rongga Udara Dalam Campuran Perkerasan Beraspal Gradasi Rapat Dan Terbuka Yang Dipadatkan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini meliputi metode pengukuran penurunan kuat tekan yang disebabkan oleh penurunan kohesi karena pengaruh air pada campuran beraspal yang telah dipadatkan
Download : SNI 03-6754-2002.pdf

SNI 03-6755-2002 
Metode Pengujian Berat Jenis Nyata Campuran Beraspal Yang Dipadatkan Dengan Menggunakan Benda Uji Berlapiskan Parafin
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini meliputi penentuan berat jenis nyata campuran beraspal yang dipadatkan dan harus digunakan untuk benda uji yang mempunyai rongga udara terbuka atau saling berhubungan, atau mempunyai penyerapan air lebih dari 2 % terhadap isi. Berat jenis nyata dari campuran beraspal yang dipadatkan mungkin digunakan untuk menghitung satuan berat dari campuran itu
Download : SNI 03-6755-2002.pdf

SNI 03-6756-2002
Metode Pengujian untuk Menentukan Tingkat Kepadatan Perkerasan Beraspal
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode pengujian ini untuk menentukan tingkat kepadatan perkerasan beraspal yang dibandingkan terhadap benda uji standar dari material yang sama dan berada dalam toleransi perencanaan campuran
Download : SNI 03-6756-2002.pdf

SNI 03-6757-2002 
Metode Pengujian Berat Jenis Nyata Campuran Beraspal di Padatkan Menggunakan Benda Uji Kering Permukaan Jenuh
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode pengujian ini meliputi penentuan berat jenis nyata campuran beraspal dipadatkan, prosedur dan untuk digunakan dalam menghitung berat volume campuran
Download : SNI 03-6757-2002.pdf

SNI 03-6758-2002
Metode Pengujian Kuat Tekan Campuran Beraspal
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan kuat tekan campuran aspal panas yang digunakan untuk Lapis permukaan dan lapis Pondasi Jalan
Download : SNI 03-6758-2002.pdf

SNI 03-6884-2002 
Metode pengujian analisis saringan bahan pengisi untuk perkerasan jalan
Bidang : Jalan Dan Jembatan, sub bidang : Perkerasan Jalan
Metode ini meliputi ketentuan-ketentuan, cara uji dan laporan hasil uji dari analisis saringan bahan pengisi untuk perkerasan jalan. Lingkup pengujian mencakup : 
1. persiapan benda uji 
2. persiapan peralatan 
3. cara uji
4. pelaporan
Download : SNI 03-6884-2002.pdf

Siklus Pembentukan tanah dan Klasifikasi Tanah

Leave a Comment
Butiran mineral yang membentuk fase padat dari ageregat padat adalah hasil dari pelapukan batuan akibat cuaca. Banyak dari sifat fisika dari bebatuan dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, dan komponen kimanya.

Terdapat tipe dasar dari bebatuan yang terbentuk dari kerak bumi, batuan mineral, dan akibat proses cuaca. Batuan umumnya dibagi menjadi 3 tipe; (1)Vulkanik, (2) Sedimen, dan (3) Metamorf.

1. BATUAN VULKANIK
Merupakan batuan yang terbentuk dari pemadatan magma yang keluar dari perut bumi. Setelah terjadinya “erupsi vulkanik” sebagian dari magma mendingin. Adapun magma yang mendingin ketika mengalir disebut “plutons’. Bowen (1992) menjelaskan hubungan antara pendinginan magma terhadap formasi perbedaan tipe batuan yang kemudian disebut “Prisip Reaksi Bowen”yang menjelaskan tentang mineral-mineral baru yang terbentuk dari magma yang mendingin. Bowen mengkasifikasikan reaksi tersebut menjadi dua bagian: 1) discontinous ferromagnesian magnesion series; 2) continous plagioclase feldspar reaction series.

Akibat Cuaca
Weathering merupakan proses pemecahan batuan menjadi batuan yang lebih kecil akibat proses mekanik dan kimia. Proses mekanik dapat terjadi melalui banyak hal, semisal perubahan suhu yang drastis, pengkikisan air laut, angin, dan lain sebagainya. Proses kimia dapat terjadi melalui banyak hal pula, semisal karena hujan asam, karbon dioksida, kadar garam air laut, dan lain sebagainya. Terdapat 3 jenis mineral tanah liat yang penting: 1) kaolinite; 2) illite; 3) montmorillonite

Transportasi dari Pelapukan Produk (Transportation of Weathering Products)

Hasil dari pelapukan dapat berada di suatu tempat atau dapat bergerak ke tempat yang lain melalui es, air, angin, dan gravitasi. Tanah terbentuk dari hasil pelapukan di tempat tersebut yang disebut residual soil atau tanah residual. Karakter yang penting dari tanah residual adalah gradasi ukuran partikel.

Tanah yang terangkut diklasifikasikan dalam beberapa kelompok, tergantung dari proses terangkut dan pengendapannya:
1. Glacial soil ( terbentuk dari tanah yang terbawa dan mengendap oleh gletser )
2. Alluvial soil ( terbawa oleh aliran air dan mengendap sepanjang sungai )
3. Lacustrine soil ( terbentuk dari endapan di danau yang tenang )
4. Marine soil ( terbentuk dari endapan di laut )
5. Aeolian soils ( terangkut dan mengendap oleh angin )
6. Colluvial soils ( terbentuk oleh gerakan tanah dari tempat aslinya yang di sebabkan gravitasi, seperti saat tanah longsor)

2. BATUAN SEDIMEN
• Endapan dari batuan, pasir, lanau, dan lempung terbentuk oleh pelapukan yang terpadatkan oleh tekanan yang membebani dan di perkuat dengan zat seperti oksida besi, kalsit, dolomit dan kuarsa. Zat penguat umumnya terlarut dalam air tanah. Mereka mengisi rongga-rongga antar partikel dan membetuk batuan sedimen.
• Terbentuknya batuan ini disebut batuan sedimen detrital. Batuan konglomerat, breksi, batuan pasir, batuan lumpur, dan shale merupakan beberapa contoh dari batuan tersebut.
• Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh proses kimia. Batuan dari tipe ini diklasifikasikan sebagai batuan sedimen kimia :
1) Batuan limestone, kebanyakan terbentuk dari kalsium karbonat yang berasal dari kalsit yang tersimpan dalam proses organisme atau proses anorganik
2) Batuan dolomite terbentuk dari kalsium magnesium karbonat [CaMg(CO3)2]. Salah satu proses terbentuknya dolomite oleh endapan zat kimia yang tercampur dengan karbonat atau melalui reaksi dari magnesium di dalam air dengan limestone.
3) Gypsum dan anhydrite adalah hasil terbentuknya pengendapan larutan CaSO4 karena penguapan air laut. Mereka termasuk batuan yang umunya disebut evaporites. Batuan pasir (NaCl) adalah contoh lain dari evaporite yang berasal dari endapan garam air laut
Batuan sedimen mengalami pelapukan untuk menjadi sedimen atau mengalami proses metamorfosis untuk menjadi batuan metamorf.

3. BATUAN METAMORF

Metamorfosis merupakan proses beralihnya komposisi dan tekstur batuan , dengan mengeluarkan cairan karena panas dan tekanan. Selama proses metamorfosis, mineral baru terbentuk dan butirn mineral terpotong untuk memberi tekstur pada batuan metamorf.
Contoh batuan metamorf :
- Batuan granit, diorit, dan gabbro menjadi tipe metomorfosis yang bermutu tinggi.
- Batuan serpih dan batuan lumpur berubah menjadi batuan sabak dan phillites dengan metamorfosis mutu rendah.
- Batuan sekis adalh tipe dari batuan metamorf dengan tekstur yang baik dan terlihat seperti serpihan mineral dari mika.
- Batuan marbel terbentuk dari kalsit dan dolomit karena re-kristalisasi. Butiran mineral dalam batuan marbel lebih besar daripada yang terdapat pada batuan asli.
- Batuan kuarsit adalah batuan metamorf yang terbentuk dari batu pasir yang kaya kuarsa. Batuan kuarsit juga merupakan salah satu dari batuan yang keras.

KLASIFIKASI TANAH
Klasifikasi tanah dibagi menjadi 2, yaitu : 
1. Klasifikasi Alami
Didasarkan atas sifat tanah yg dimiliki tanpa menghubungkan dg tujuan penggunaan tanah tersebut.
2. Klasifikasi Teknis 
Didasarkan pada sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kemampuan tanah untuk penggunaan-penggunaan tertentu.

Sistem Klasifikasi Tanah yang ideal mampu mengelompokkan tanah dalam satu kelas yang
Isogenus : Tanah yang mempunyai genesis sama 
Isomorf : Tanah yang mempunyai kenampakan yg sama
Isofungsi : Tanah yang mempunyai fungsi sama dalam lingk.
Isotropik : Tanah yang mempunyai lokasi yang sama

Klasifikasi Tanah Indonesia
(Dudal dan Supraptoharjo 1957, 1961 dan Pusat Penelitian Tanah (PPT)–Bogor 1982)
Sistem klasifikasi tanah yang dibuat oleh Pusat Penelitian Tanah (PPT) Bogor tahun 1982 merupakan pengembangan dan modifikasi dari sistem klasifikasi tanah yang dibuat oleh Dudal Dan Supraptoharjo tahun 1957 dan 1961, yang digunakan untuk keperluan survey tanah di Indonesia. Sistem ini mirip dengan sistem klasifikasi Amerika Serikat tahun 1937 serta sistem Thorp dan Smith tahun 1949. Modifikasi sistem klasifikasi tanah Indonesia juga dilakukan setelah dikeluarkannya sistem klasifikasi tanah FAO/UNESCO pada tahun 1974.

Dasar-dasar klasifikasi tanah yang dibuat oleh Dudal dan Supraptoharjo : 
1. Morfologi tanah merupakan kriteria untuk pengklasifikasian tanah
2. klasifikasi tanah dilakukan pada kategori yang berbeda-beda 
3. klasifikasi tanah harus dikaitkan dengan keperluan survey tanah, 
4. dilakukannya korelasi yang sistematik dan berkelanjutan antara klasifikasi tanah dan survey tanah. 

Pada sistem klasifikasi tanah tahun 1957 terdapat 13 tanah dan 1961 terdapat 19 jenis tanah di Indonesia. Tanah dibedakan atasada atau tidaknya terjadi perkembangan profil tanah, susunan horison utama, berdasarkan warna, dan sifat fisik utama tanah (tekstur) pada kedalam ± 50 cm. Kategori yang digunakan adalah (1) Golongan, (2) Kumpulan, (3) Jenis, (4) Macam, (5) Rupa dan (6) Seri.

Jenis tanah menurut Dudal dan Suparaptoharjo (1957) terdiri dari:
1
Latosol
8
Hidrosol
2
Andosol
9
Calcisol
3
Podsolik Merah Kuning
10
Regosol
4
Mediteran Merah Kuning
11
Litosol
5
Regur
12
Aluvial
6
Podsol
13
Tanah Organik
7
Tanah Sawah

Sedangkan Dalam sistem klasifikasi tanah PPT-Bogor dikenal 20 golongan tanah yaitu: 
1
Organosol
11
Andosol
2
Litosol
12
Latosol
3
Ranker
13
Brunizem
4
Rendzina
14
Kambisol
5
Grumosol
15
Nitosol
6
Gleisol
16
Podsolik
7
Aluvial
17
Mediteran
8
Regosol
18
Planosol
9
Koluvial
19
Podsol
10
Arenosol
20
Oksisol

PADANAN NAMA TANAH MENURUT BEBERAPA SISTEM KLASIFIKASI

No.
Sistem Dudal- Soepraptohardjo (1956-1961)
Modifikasi 1978/1982 (PPT)
FAO/UNESCO (1974)
USDA Soil Taxonomy (1975)
1
Tanah Aluvial
Tanah Aluvial
Fluvisol
Entisol
2
Andosol
Andosol
Andosol
Inceptisol
3
Brown Forest Soil
Kambisol
Cambisol
Andisol
4
Grumusol
Grumusol
Vertisol
Inceptisol
5
Latosol
Kambiosol
Cambisol
Vertisol
Latosol
Nitosol
Inceptisol
Lateritik
Ferralsol
Ultisol
6
Litosol
Litosol
Litosol
Entisol
7
Mediteran
Mediteran
Luvisol
Alfisol/Inceptisol
8
Organosol
Organosol
Histosol
Histosol
9
Podsol
Podsol
Podsol
Spodosol
10
Podsol Merah Kuning
Podsolik
Acrisol
Ultisol
11
Podsol Coklat
Kambisol
Cambisol
Inceptisol
12
Podsol Coklat Kekelabuan
Podsolik
Acrisol
Ultisol
13
Regosol
Regosol
Regosol
Entisol/Inceptisol
14
Renzina
Renzina
Renzina
Rendoll
15
-
Ranker
Ranker
-
16
Tanah-tanah Berglei
Gleisol
Greysol
Aquic Sub ordo
Glei Humus
Gleisol Humik

Inceptisol (Aquept)
Glei Humus Rendah
Gleisol 

Inceptisol (Aquept)
Hidromorf
Podsolik
Gleyic
Ultisol
Kelabu
Gleiik
Acrisol
(Aquult)
Aluvial Hidromorf
Gleisol Hidrik

Inceptisol (Aquept)
17
Planosol
Planosol

Inceptisol (Aqupt)